Tuesday, February 7, 2017

pendidikan Hemat untuk anak

Mengajarkan Pendidikan Hemat Sejak Dini
Oleh: Ahmad Fahrudin

"Singkatnya, jalan menuju kekayaan, jika Anda menginginkannya, sesederhana jalan ke pasar. Ia tergantung terutama pada dua hal: rajin dan hemat, jelasnya: janganlah menyia-nyiakan waktu (tidak rajin) ataupun uang (tidak hemat)." -- Benyamin Franklin
Saya mencermati kalimat hikmah di atas. Memang benar adanya dan itu sesuai dengan kenyataan sekarang ini. Apalagi hidup yang dituntut dengan segala pemenuhan serba instan, sehingga budaya konsumtif merambah kepada semua golongan.
Beberapa hari yang lalu saya membaca suatu artikel yang berjudul mengajarkan anak untuk belajar hemat dengan cara menabung.
Seketika ingatan saya meluncur jauh ke belakang. Ketika saya duduk di bangku kelas Sekolah Dasar. Namanya bapak Sakri, kalau di kampungnya beliau mempunyai panggilan bapak Sukri. Entah apa yang menyebabkan panggilannya berbeda satu huruf saat di sekolah dengan di kampung. Jelasnya saya tidak tahu.
Beliau mengajarkan arti penting makna suatu kehidupan, walaupun saya dan teman-teman seangkatan baru kelas 3. Kurang lebih umur kita adalah 9 tahun.
Kedisiplinan, ketertiban, kebersihan, kebudayaan dan tradisi, serta budaya hidup hemat beliau ajarkan dan tauladankan kepada kami. Kalau boleh saya menyimpulkan --pengajaran dan pendidikannya lebih dititik-tekankan pada hal yang berhubungan dengan kearifan hidup.
Satu hal yang saya rasa berhubungan dengan artikel jika dihubungkan dengan pendidikan yang diajarkan bapak Sakri adalah menabung. Dengan menabung maka kita bisa dikatakan hidup hemat. Bukankah peribahasa mengajarkan, hemat pangkal kaya.
Saya ingat betul dengan alat yang kami pakai untuk menabung bersama dengan teman sekelas. Namanya adalah 'bumbung'. Bumbung ini berasal dari bambu yang dipotong satu ruas. Kemudian dibersihkan dan dirapikan. Bagian atas dikasih lubang untuk jalan masuknya uang keping logam.
Hidup hemat inilah yang diajarkan oleh beliau. Setiap satu minggu sekali dihari jum'at seingat saya sebelum istirahat, kami harus menabung ke dalam bumbung. Bumbung ini kami simpan di almari kelas.
Selama satu tahun saya menabung, kurang lebih uang tabungan saya terkumpul 125 ribu. Jumlah yang cukup besar bagi saya waktu itu. Uang yang terkumpul bisa saya belikan buku, sepatu, dan tas. Rasanya puas tak terperi mampu membeli sesuatu dengan uang hasil tabungan.
Budaya inilah yang seharusnya tetap dipertahankan dalam dunia pendidikan. Khususnya anak usia sekolah dasar. Dengan menabung, akan mengajarkan beberapa hal.
Pertama, budaya hidup hemat. Kedua, penanaman karakter kepada anak. Ketiga, mengajarkan kepada mereka untuk mengatur keuangan. Dan saya yakin masih banyak lagi segi positifnya.
Dalam artikel tersebut dijelaskan. Alat menabung bisa menggunakan bahan-bahan bekas. Seperti; kaleng bekas minuman, botol, sehingga mampu mengarah pada keramahan lingkungan.
Dan sesuai dengan kreativitas masing-masing siswa. Ingin dibentuk seperti apa, sehingga daya kreativitas anak mampu tereksplor dengan baik.
Marilah kita ajarkan anak untuk menabung sejak dini, dengan tidak meninggalkan sisi kreativitas anak. Tabungan adalah biaya hidup masa depan yang sudah kau miliki hari ini.
Terkhusus untuk guruku bapak Sakri Al-Maghfurlahu, semoga engkau khusnul khotimah dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, diampuni dosa-dosanya, dan diterima amal baiknya, termasuk amal yang diajarkan kepada kami. Aamiin.
Tulumgagung, 07 Pebruari 2017

No comments:

Post a Comment

DOKUMENTASI KEGIATAN PRAMUKA PASOPATI SMPN 3 KEDUNGWARU

  DOKUMENTASI   KEGIATAN  PRAMUKA PASOPATI SMPN 3 KEDUNGWARU